Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Sebelum Kehilangan

Gambar
Bagaimana kabarmu, Rindu? Apa kabar mimpi-mimpi yang pernah kita lukis dahulu? Akankah masih basah tinta itu atau sudah mengering? Maafkan aku atas rentetan pertanyaan tak mendasar itu. Aku hanya ingin tahu, cukup ingin tahu saja bagaimana harimu tanpa kehadiran diriku. Sungguh, semalam bola-bola mataku tak ingin mengunci dirinya dalam buaian selimut kelopak mata. Betapa keras pun kucoba, ia hanya bergeming dalam kesepian tak terkira. Otakku kembali memutar-mutar rekaman kebersamaan kita –di waktu itu, sebelum aku memutuskan untuk menjauh darimu –perlahan-lahan. Memainkan permainan bodoh yang aku sebut: petak umpet. Kukira kelak kau akan mencari aku dimanapun ku berada, bahkan di ujung dunia sekalipun! Namun bodohnya aku, mengabaikan kekerasan hatimu yang (mungkin) kini telah terbiasa tanpaku. Sungguh kebodohan yang tidak termaafkan! Aku kalah, kalah, bahkan sebelum permainan itu dimulai. Tanpa kusadari rupanya duri permainan ini mengoyak hatiku terlebih dulu. Permainan ...

Pemuda di Ujung Senja

Gambar
ilustrasi:google Hujan deras mengguyur desa petang ini. Kian lama kian deras hingga memaksaku untuk mengintip sungai di belakang rumah. Rupanya ketinggian air sudah mencapai tinggi tanggul. Sekejap kemudian terdengar gelegar petir bersamaan dengan suara dentuman dahsyat yang memekakkan telinga. Spontan saja, segera ku hadapkan muka ke sumber suara. Rupanya tanggul tak lagi kuat membendung luapan sungai. Dalam seketika, konstruksi berbahan dasar batu, pasir, semen dan kawan-kawannya itu luluh lantak oleh sekali gebrakan. Tanggul yang dulunya menjadi kebanggaan warga, kini sudah tak lagi berwibawa, yang ada hanyalah malapetaka. Lupakan soal tanggul itu, dengan posisi yang serba terjepit, waktu sempit, segera kuambil barang-barang prioritas yang bisa kuselamatkan. Kemudian aku lari pontang-panting menjauhi amukan aliran sungai yang kian menjadi itu. Hingga malam menjelang, banjir tak segera surut, bahkan tingginya kini mencapai atap rumah warga. Tak lama kemudian datanglah t...

Lelaki Tua dan Kematian

Gambar
google.com Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswi Pendidikan Matematika dan Calon Kru Magang LPM Frekuensi angkatan 201 8 Angin semu berembus lembut dari utara ke selatan, pagi ini. Menerbangkan dedaunan kering yang terserak tak karuan di jalanan. Sementara di ujung jalan, seorang gadis muda; berambut hitam pekat terurai panjang, sorot matanya berbinar, dan berbulu mata lentik namuntampak layu. Pandangan matanya kosong, usikan angin dan kicauan burung tak berhasil mengubah pendiriannya. Tubuhnya membeku dihunjam waktu. Namun, siapa sangka di balik tubuh dinginnya, tersimpan letupan-letupan pertanyaan yang mampu membungkam tiap orang yang mendengarnya. Dilema telah menghanyutkan nuraninya. Di satu sisi, menurut perasaannya sebagai perempuan, ia menolak keputusannya untuk mengakhiri ikatan kasih itu. Namun, di lain sisi, Sang Penali Kasih tengah mendera hatinya tak ada ampun, dengan bermacam siksaan yang sanggup menggugurkan daun muda dari tangkainya. “Apa yang kau sesalkan dari ...